JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Petani Padi Bintan Belajar Menjadi Penangkar Benih Mandiri melalui Bimbingan Teknis Hilirisasi Inovasi Teknologi Balitbangtan dari BPTP Kepri

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Kepulauan Riau Kamis, 25 Maret 2021 telah menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) Hilirisasi Inovasi Teknologi Balitbangtan. Bimtek kali ini digelar di lokasi persawahan Poyotomo Bintan dengan tema Produksi Benih Sebar Varietas Unggul Baru (VUB) Padi Melalui Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Bimtek dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dengan jumlah peserta yang terbatas. Peserta bimtek adalah petani yang berasal dua kelompok tani yaitu Poyotomo Makmur dan Hidup Bersama.

Tujuan pelaksanaan bimtek ini yaitu; 1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pelaksanaan teknis budidaya yang baik sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas); 2) mengetahui cara dan proses mengajukan sertifikasi benih padi; 3) mendapatkan umpan balik dari petani.

Kasubbag Tata Usaha BPTP Kepri, Sahrul Hadi Nasution, SP. dalam sambutan mewakili Kepala Balai menyampaikan bimtek ini bertujuan diantaranya menghilirisasi varietas unggul Balitbangtan Kementerian Pertanian, mendapatkan umpan balik dari petani padi yang ada di Bintan, meningkatkan skill petani padi sehingga output terakhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.

“BPTP Kepri mulai pertama kali mendampingi petani padi di kampung poyotomo ini sekitar tahun 2015. Pada awalnya dibukanya lahan ini produksi padinya masih rendah, karena perlu adanya adaptasi. Alhamdulillah sekarang produksinya sudah terus meningkat, dan ini perlu adanya kesabaran petani dan didukung dengan teknologi,”kata Sahrul.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Agus Widyasmiko, S.Sos, M.Si,. ikut memberikan sambutan yang diselenggarakan din tengah sawah ini. Ia menyatakan bahwa bimtek ini sangat penting untuk menambah wawasan penyuluh terkait inovasi teknologi terbaru dalam budidaya tanaman pangan padi. Dengan kerja keras petani dan didukung teknologi oleh BPTP Kepri akan membuat pertanian di Bintan ini lebih maju dan modern. Harapan akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Agus.   

Nil Erison, S.TP., Kepala Balai Benih Induk Kepri yang mewakili sambutan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKPPKH) Kepri juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya bimtek ini. BBI yang mempunyai tugas pengawasan dan sertifikasi benih siap membantu mendampingi petani padi yang ada di Bintan kalau ingin menjadi petani penangkar. “Sampai saat ini di Kepri sulit dan mahal kalau mau mendatangkan benih dari luar. Padahal petani agar produksinya meningkat salah satunya didukung dengan benih yang unggul dan berkualitas,” jelas Nil.

Selesai acara sambutan dilanjutkan dengan pemaparan materi bimtek. dari BBI, Herlina Husen Hasima, SP memaparkan terkait dengan sertifikasi padi, mulai dengan mengenalkan dasar hukum, teknis produk benih padi, dan syarat sertifikasi benih. Herlina berharap petani dapat mengikuti kegiatan bimtek bisa menjadi penangkar-penangkar benih dan tersertifikasi. Sehingga Benih dari penangkar ini nantinya dapat memenuhi kebutuhan petani yang tergabung di kelompok tani Poyotomo Makmur dan Hidup Bersama.

“Syarat menjadi petani pengkar, petani bisa mengajukan permohonan sertifikasi kepada BBI, baik dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang bermaksud memproduksi benih bersertifikat, ditujukan kepada Balai Benih Induk (BBI) yang sekarang berganti nama menjadi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih serta Perlindungan Tanaman Pangan. Permohonan sertifikasi hanya dapat dilakukan oleh penangkar benih yang telah memenuhi persyaratan,” tegas Herlina.
Terkait dengan produksi benih bermutu tinggi melalui teknologi perbenihan hadir sebagai narasumber kedua dari BPTP Kepri R. Catur Prasetiyono, SP., S.ST. Ia menjelaskan tentang teknik budidaya padi untuk perbenihan secara rinci. Dijelaskannya beberapa tahap kegiatan yang harus dilakukan oleh penangkar benih pemula, salah satunya kegiatan Rouging yaitu mencabut tanaman yang bukan dari vareitas yang ditangkarkan.

Dalam paparannya, Catur, menyampaikan bahwa penerapan Paket Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah dapat meningkatkan hasil yang optimal dibandingkan kondisi eksisting yang hanya 3-4 ton/ha. Namun, Catur menekankan bahwa hasil tersebut dapat dicapai apabila menerapkan seluruh komponen teknologi PTT Padi Sawah secara baik dan benar. Catur menambahkan bahwa penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) spesifik lokasi, penanaman bibit muda (<21 hari), pengaturan populasi tanaman (legowo 2:1, 20 x 12,5 x 40 cm, 333.333 rumpun/ha), pemupukan berimbang, pengembalian jerami, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah beberapa komponen teknologi kunci yang wajib diterapkan petani untuk mendapatkan hasil yang optimal. Setelah pemaparan dari kedua narasumber, acara dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab kemudian dilanjut dengan tanam bersama dan demo praktek Tajarwo (2 :1) di lahan demplot BPTP Kepri.