JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

BPTP Kepri Menyiapkan Generasi Milenial Pertanian Melalui SMK ATPH

Bintan (3/9). SMKN 1 Gunung  Kijang bersama mitra-mitra jejaring kerja sama melakukan penyelarasan kurikulum kompetensi keahlian dalam rangka pengembangan pertanian pendukung ketahanan pangan melalui pendampingan Biotrop tahun 2019. Pelaksanaan kegiatan dirangkaikan dengan rapat koordinasi jejaring industri mitra SMK, 29-30 Agustus 2019.

Adanya data terkait penyumbang angka pengangguran yang cukup besar berasal dari lulusan SMK menjadi keprihatinan bersama terutama pelaku pendidikan di bidang SMK. Disinyalir salah satu penyebabnya yaitu terdapat ketidaksesuaian antara lulusan yang dihasilkan SMK dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang akan menampungnya. Contoh nyata yang sering dialami dalam proses penitipan siswa/i praktik kerja industri (prakerin) di dunia usaha/dunia industri (DU/DI), harapan DU/DI yang terlalu tinggi belum diimbangi dengan kemampuan siswa/i yang melakukan prakerin. Hal ini diungkapkan Nelson Yanry, S.Kom., S.H., M.M. mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau saat memberikan sambutan dan membuka acara.

Selanjutnya dipaparkan oleh narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Dr. Ari Basuki, M.Pd., M.Si., tentang gambaran kurikulum bidang agribisnis yang harus mengakomodir kebutuhan DU/DI. Penyelarasan kurikulum yang dilakukan ini penting untuk menjembatani kebutuhan DU/DI dengan bahan ajar yang perlu disiapkan dan masuk dalam perencanaan pengajaran di sekolah. Para guru berdiskusi terkait penyusunan naskah kurikulum yang baik dan mengakomodir penyesuaian sesuai dengan kebutuhan DU/DI. Mitra yang hadir memberi masukan dan saran yang diperlukan dalam penyusunan kurikulum maupun saran teknis terkait pelaksanaan kerja sama mitra yang telah berjalan selama ini.

BPTP Kepri memberikan masukan teknis terkait pelaksanaan prakerin yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir agar lebih ditingkatkan komunikasi antara guru pembimbing dari SMK dengan pembimbing yang ditugaskan di BPTP. Dengan demikian kondisi apapun yang dialami anak didik di lokasi prakerin dapat dimonitor dan dikoordinasikan secara baik, cepat dan tepat. Hal senada juga disampaikan oleh mitra lain yang turut hadir, Safari Lagoi Bintan, bahwa siswa/i prakerin jangan hanya diantar dan dilepas begitu saja tanpa koordinasi yang memadai selama rentang waktu prakerin. Perhatian dan kehadiran serta bimbingan dari kedua pihak, sekolah dan DU/DI, penting bagi anak didik agar dapat memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik. Terungkap dalam diskusi bahwa dalam beberapa kasus ditemukan adanya potensi siswa/i prakerin yang tidak muncul karena kurangnya koordinasi guru pembimbing dengan DU/DI. Sebagai contoh, sekolah pernah mendapat juara dalam pembuatan pupuk dan pestisida dari bahan organik. Siswa prakerin tidak memiliki kepercayaan diri untuk menerapkan hal tersebut saat prakerin, DU/DI tidak tahu potensi tersebut, guru pembimbing tidak pernah menginformasikan. Kendala teknis seperti ini harus diatasi dan diperbaiki untuk masa yang akan datang.

Pada aspek kurikulum, BPTP Kepri menekankan pentingnya mengakomodir pengelolaan pasca panen pertanian mengingat karakter wilayah Kepri yang bersifat kepulauan dan produk yang diperjualbelikan berupa produk pertanian yang dalam kondisi mentah tidak dapat bertahan lama. Pasca panen juga terkait dengan pengolahan yang dapat meningkatkan nilai komoditas pertanian yang dihasilkan. Kendala fluktuasi harga produk mentah dapat terbantu diatasi melalui penanganan pasca panen yang tepat. Dengan diakomodir masuk dalam kurikulum sekolah, siswa/i diarahkan bukan hanya menghasilkan produk pertanian mentah, tapi lebih lanjut berorientasi agribisnis melalui peningkatan nilai produk olahan barang setengah jadi maupun barang jadi untuk dipasarkan sampai ke tangan konsumen.