JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rapat Kerja Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP)

Tanjungpinang. Rapat Kerja lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) yang bertema Konsolidasi Sumberdaya Pengkajian untuk Akselerasi Pencapaian Sasaran Kegiatan Strategis Balitbangtan yang diselenggarakan pada tanggal 13-16 Maret 2019 di Hotel CK Tanjung Pinang.

Peserta raker terdiri dari pejabat eselon 3, eselon 4, koordinator program dan wakil penyuluh dari 33 BPTP seluruh Indonesia.

Hari pertama raker (14/03/2019) peserta diajak berkunjung ke Balai Benih Induk Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki luas lahan 50 ha yang mulai dibangun pada tahun 2014.

BBI yang memiliki fasilitas gedung kantor, laboratorium kultur jaringan, laboratorium proteksi, aula, pengairan, nursery, sejak tahun 2018 mengembangkan tanaman mangga (5 varietas), durian (5 varietas), manggis (2 varietas), alpukat (2 varietas) dari Balitbu Solok.

Selain itu juga tersedia komoditas perkebunan cengkeh, lada dan kelapa pasang surut. Hal yang patut dicontoh dari kegiatan yang dilakukan di BBI, sinergi yang dibangun sangat baik. BBI adalah fasilitas milik pemerintah daerah, tetapi eksistensi Balitbangtan sangat terlihat. Kerjasama yang dijalin antara Balitbangtan Kementan, melalui BPTP Kepri sebagai UPT Balitbangtan di daerah, dengan BBI Provinsi Kepri perlu terus dibangun dan pengembangannya dilakukan melalui market intelegent. Pasar harus diperhatikan agar produk yang dihasilkan dapat bernilai ekonomis.

Kunjungan berikutnya ke Kebun Salak Sari Intan di Desa Tuapaya Asri, Kec. Tuapaya, Kab. Bintan bekerjasama dengan Poktan Kube Majujaya. Salak Sari Intan merupakan hasil silangan Salak Pondoh x Salak Bali karya Peneliti Balitbu Tropika. Keunggulan salak ini adalah bisa berbuah sepanjang tahun, rasa manis dengan tekstur renyah dan biji kecil.

Penanaman salak di lokasi kebun yang dikunjungi telah dimulai sejak tahun 2015 sebanyak 700 batang. Saat ini sudah berkembang biak melalui cangkok anakan. Komoditas ini sangat prospektif untuk dikembangkan karena sampai saat ini poktan belum dapat memenuhi permintaan pasar.

Dr. Haris Syahbuddin, DEA selaku Kepala BBP2TP, dalam arahannya menyampaikan bahwa “penyuluh bukan hanya memberi suluh, tapi sudah melaksanakan dan membuktikan sendiri kehandalan teknologi yang didiseminasikan. Hal ini karena titik ungkit dari keberhasilan adalah bagaimana mendiseminasikan hasil-hasil yang telah dicapai”.

Selain itu Ka.BB mengharapkan kiranya kunjungan tersebut memberi hikmah tersendiri bagi setiap peserta.

Dihari yang sama Kamis (14/03/2019) peserta melanjutkan raker dengan mengikuti arahan dan berdiskusi dengan beberapa narasumber dari pimpinan eselon 2 Lingkup Balitbangtan Kementan di Ballroom Hotel CK, Tanjung Pinang.

Dr. M. Prama Yufdy, Sekretaris Balitbangtan, dalam penyampaian materinya membahas Sinergi Program Strategis Litbang Mendukung Capaian Sasaran BEKERJA, SERASI, SAPIRA, OPAL, SIWAB dan SDM Petani Milenial. Beberapa poin penting dalam arahan Sekretaris Balitbangtan, antara lain:

  1. Program BEKERJA; BPTP harus dapat berperan aktif dalam mendukung program BEKERJA. Beberapa hal yang menjadi pembelajaran dalam pelaksanaan program BEKERJA; Lamanya revisi DIPA, Pengurangan jumlah RTM, dan Penurunan harga pakan. 
  2. Selanjutnya OPAL (Obor Pangan Lestari) dituangkan dalam Permentan no 10 tahun 2019. Konsepnya hampir sama dengan KRPL yaitu promosi penganekaragaman pangan dalam rangka pemenuhan gizi. Yang dijadikan OPAL adalah TAGRIMART
  3. Petani Milenial berorientasi ekspor; Gerakan pembangunan SDM pertanian, tahapan meliputi pelatihan, bimbingan teknik, sosiakisasi, pemagangan, Tugas belajar, diseminasi, pendidikan tinggi vikasi dan sertifikasi kompetensi.
  4. SERASI (Selamatkan rawa sejahterakan petani), dalam rangka menjadikan lumbung pangan dunia 2045 dengan memanfaatkan lahan rawa pasang surut, dilaksanakan di Provinsi Kalsel dan Sumsel.
  5. Kawasan Pertanian Sejahtera (SAPIRA); yang paling penting adalah akses pasar, bagaimanapun tingginya produktivitas tapi jika tidak ada pasar pasti akan ditinggalkan oleh petani.

Melanjutkan penyampaian materi berikutnya oleh Dr. Ir. Farid Bahar, M.Sc terkait Penderasan Kerjasama BPTP dengan ragam stakeholder oleh Staf Ahli Menteri Pertanian memyampaikan BPTP harus berperan mewakili Kementerian Pertanian di Provinsi, proaktif menawarkan kerjasama, solusi dan bimbingan ke stakeholder, harus menyediakan informasi tentang pertanian secara tertulis dan lisan untuk tamu Pemda terkait, koordinasi dengan dinas non pertanian untuk jalin kerjasama.

Materi lain yang disampaikan meliputi (1) Akselerasi dan kualitas perbenihan tanaman pangan dan hortukultura (Kapuslitbanghorti/Plt. Kapuslitbangtan), (2) Siwab dan perbibitan (Kapuslitbangnak/Kapuslitbangbun), (3) Kebijakan dan program pembangunan pertanian 2020-2024 (Kepala Biro Perencanaan), (4) Percepatan Modernisasi Pertanian Hulu Hilir dan Peningkatan Nilai Tambah (Kepala BB Biogen dan BB Pascapanen).

Dalam sambutan pembukaan Raker Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Jumat-15 Maret 2019, Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Fadjry Djufry) mengatakan bahwa indikator keberhasilan BPTP di daerah adalah kehadirannya dibutuhkan oleh kepala daerah.

Oleh karena itu BPTP tidak hanya menunggu kedatangan pemerintah daerah tapi sebaliknya BPTP harus terus mensosialisasikan keberadaannya kepada pemerintah daerah setempat. Hal ini karena masih banyak teknologi inovatif Badan Litbang Pertanian yang belum diketahui oleh masyarakat luas seperti contoh varietas-varietas unggul baru yang dihasilkan.

Sebelum kegiatan pembukaan dilakukan, peserta mengikuti pemaparan materi dengan judul: 1) Menyiapkan BPTP menuju pertanian era industry 4.0 oleh Dr. Haryono, 2) Implementasi Pendampingan Penerapan Teknologi Spesifik Lokasi (SAPIRA dan SERASI) Mendukung kegiatan Strategis Kementan oleh Dr. Haris Syahbuddin, DEA (Kepala BBP2TP)

Sedangkan dalam acara pembukaan yang digelar pukul 14.00 setelah Laporan Ketua Panitia yang dalam hal ini adalah Kepala BBP2TP (Dr. Haris Syahbuddin, DEA) dilanjutkan dengan presentasi Lesson Learned Bupati Pelalawan.

Selain itu juga dilakukan Penandatanganan MOU: 1) Ka.Badan dengan Bupati Bintan, 2) Ka.Badan dengan Bupati Kepahiang, 3) Ka.Badan dengan Bupati Rejang Lebong, 4) Ka.Badan dengan Bupati Pelalawan, 5) Ka. BBP2TP dengan Kapus PPVTPP.

Agenda lainnya dalam acara pembukaan adalah Penyerahan Piagam Penghargaan Kepada para Bupati, Penyerahan Sertifikat pada Bupati Karimun, Penyerahan Piagam Penghargaan terhadap percepatan pendaftaran varietas baru yang mana BPTP NTT mendapat peringkat II, juga penghargaan The Best Achievement Penggiat Sosial Media kepada BPTP NTT.

Launching BPTP News dan Informasi Kebun Percobaan masih dilakukan oleh Ka.Badan Litbang Pertanian yang dilanjutkan dengan pengukuhan  Forum Komunikasi Penyuluh Pertanian Utama (FKPPU) Balitbangtan. Ada dua belas orang penyuluh pertanian utama yang nama-namanya tersebut dalam SK Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian No. 251/KPts/OT.050/03/2019, tentang Pembentukan Forum Komunikasi Penyuluh Pertanian Utama Badan Litbang Pertanian.

Forum Komunikasi Penyuluh Pertanian Utama (FKPPU) Balitbangtan merupakan tonggak baru perjalanan penyuluhan dan penyuluh itu sendiri. Forum ini telah dikukuhkan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Fadjry Djufry ) pada hari Jumat, tanggal 15 Maret 2019 pada Acara Pembukaan Rapat Kerja Lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.

Hal ini pertanda bahwa penyuluh dan penyuluhan pertanian dari tahun ke tahun terus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah khususnya Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian.

Pembentukan forum tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa dinamika kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah perlu upaya koordinatif dan kebijakan agar penyuluh pertanian dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal.

Selain itu, Badan Litbang Pertanian memiliki tenaga penyuluh pertanian di BPTP yang berada di setiap provinsi yang diberikan peran semakin penting dalam pembangunan pertanian wilayah.

Dengan adanya forum ini diharapkan bahwa kebijakan dan strategi penyelenggaraan penyuluhan pertanian perlu diimplementasikan agar terjadi keselarasan kebijakan pusat dengan kebijakan di daerah. (Lutfi Humaidi, M.Sc)